Latest News

Izzatul Fitriyah, Penulis Cilik yang Pernah Dimiliki Muhammadiyah Buleleng

7 months ago Milenial Muhammadiyah

MENULIS tujuh buku dalam rentang waktu tiga tahun tidak bisa dilakukan banyak orang. Jangankan tujuh buku, satu buku saja bagi seorang penulis kadang-kadang membutuhkan waktu bertahun-tahun merampungkannya. Namun, itu bisa dilakukan Izzatul Fitriyah atau yang akrab disapa Ria. Ia pernah mampu menulis tujuh buku, enam novel dan satu naskah film dalam rentang waktu tiga tahun.

Ria bukan sosok penulis senior, dengan segudang pengalaman dan jam terbang kepenulisan yang padat. Putri dari pasangan Mohamad Ali Susanto dan Farida ini memulai menulis buku novel sejak kelas IV sekolah dasar (SD). Karya novel pertamanya berjudul “Spider Girl”. Buku yang menceritakan tentang gadis laba-laba ini secara mengejutkan diterima penerbit terkemuka Indonesia Mizan, Bandung. Buku novel “Spider Girl” diterbitkan unit anak dan remaja Mizan, yakni Dar!Mizan pada tahun 2011. Usia Ria saat itu baru genap 10 tahun. Gadis kecil yang pemalu ini lahir di Singaraja, 14 Desember 2001.

Setelah novel pertamanya “Spider Girl”, menyusul terbit novel kedua Ria yang berjudul “Girl Cooking School”. Novel ini diterbitkan penerbit Lingkar Pena, Jakarta pada tahun yang sama, yakni tahun 2011. Bayangkan dalam satu tahun, Ria yang mempunyai hobi menulis, membaca novel dan nonton film ini berhasil menerbitkan dua buku novel.

Pada tahun berikutnya, yakni 2012, buku-buku novel Ria kembali terbit. Novel ketiganya berjudul “Aku Pasti Bisa” diterbitkan penerbit Tiga Ananda sebuah imprint dari penerbit besar yang bermarkas di Solo, Tiga Serangkai. Novel keempat Ria, kembali diterbitkan penerbit Tiga Ananda, Solo pada tahun 2012. Judulnya “Mini Police”.

Karya-karya tulis Ria terus mengalir. Sukses menerbitkan dua novel di tahun 2011 dan dua novel pada 2012, Ria kembali menelorkan karya novel di tahun 2013. Pada tahun ini dua buku novel Ria kembali diluncurkan. Yakni “Ghostly Girls” yang diterbitkan Noura Book’s, Jakarta, dan “Smile Forever Edeline!” yang kembali diterbitkan Dar! Mizan, Bandung.

Pada tahun 2013 itu juga, Ria berhasil merampungkan penulisan naskah film yang berjudul “1000 Balon”. Naskah film ini memenangkan lomba penulisan naskah film yang diselenggarakan Biskuat Semangat. Filmnya kemudian ditayangkan di RCTI yang dibintangi sejumlah bintang film cilik Indonesia.

Sebagai penulis naskah, Ria berkesempatan menyaksikan shuting film tersebut di wilayah Bogor yang disupervisi sejumlah sineas kenamaan Indonesia. Di sanalah, Ria juga bertemu sejumlah bintang film terkemuka Indonesia, seperti almarhum Didi Petet. Ria disebutnya sebagai anak berbakat dalam bidang kepenulisan.
Selain enam buku novel dan satu naskah film, Ria juga menulis sejumlah cerpen. Cerpennya masuk dalam buku kumpulan cerpen “Sejuta Bibit Impian” yang diterbitkan Dar!Mizan, Bandung, pada tahun 2014.

Ria ternyata bukan hanya berprestasi dalam kepenulisan cerita. Gadis yang memang bercita-cita ingin menjadi penulis novel ini juga punya prestasi di bidang olahraga, yakni olahraga menembak. Pada suatu Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Buleleng, Ria berhasil menyabet juara III menembak kelas 10 meter Pistol Junior Woman. Dan pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali 2015, Ria merupakan atlet Perbakin Buleleng mewakili Kabupaten Buleleng dalam ajang tersebut.

Proses kreatif Ria dalam menulis novel cukup menarik dicermati. Ia belajar menulis secara otodidak. Tak ada yang mengajari. Ayahnya, M. Ali Susanto, merupakan seorang guru mata pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan). Ibunya, Farida, seorang ibu rumah tangga dan juga seorang guru. Ayahnya tak menyangka anak keduanya, dari tiga bersaudara, tersebut menjelma menjadi penulis novel.

Yang diketahui Ali, anaknya sejak kelas III SD mulai senang membaca buku-buku cerita. Lantas mencorat-coret kata-kata di komputer miliknya. Ria selalu melarang orangtuanya membaca apa yang ditulisnya di komputer karena malu. Juga kakaknya, Bughyatul Murtasyidah, dan adiknya Lisana Sidqin Aliya.

Tahu-tahu ayahnya melihat Ria melahirkan sebuah karya. Jika Ria merasa karyanya rampung, baru orangtuanya dibolehkan membaca, dan mengedit kalau-kalau kata-kata yang salah. Setelah itu ayahnya bagian mengirim naskah ke penerbit.

Itu juga diakui Ria. Ia mendapatkan inspirasi dari membaca buku-buku cerita. Terutama buku-buku seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) yang diterbitkan Dar!Mizan. Buku-buku KKPK memang ditulis oleh penulis-penulis cilik. Sejak itu, Ria keranjingan membaca buku. Setelah melahirkan karya-karya cerita, Ria semakin gila buku. Beragam buku novel karya-karya sastrawan besar Indonesia ditelan habis. Buku berat semacam “The Da Vinci Code” karya Dan Brown dilahap dengan cepat oleh Ria.

Ria kini sudah remaja, dan tengah menempuh pendidikan sarjananya di Universitas Indonesia (UI) Jakarta. (sdm)

0 Comment

Leave a Reply

Related Post