Latest News

Pemimpin Kreatif

7 months ago Post

Oleh Yahya Umar *)

PEMIMPIN itu harus kreatif. Dan punya kemampuan mendorong orang yang dipimpinnya juga kreatif. Tak cukup beriman dan bertakwa. Tak cukup adil dan jujur. Tak cukup arif, bijaksana dan bertanggungjawab. Tak cukup punya rasa ikhlas tanpa pamrih. Seorang pemimpin juga harus visioner, inspiratif, dan kreatif.

Pemimpin-pemimpin Islam terdahulu juga kreatif. Karena kekreatifan mereka, Islam jadi jaya dan maju. Bukankah bisa dibilang kreatif ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan pengumpulan ayat-ayat Alquran di era pemerintahannya?

Semula Abu Bakar tidak bersedia. “Mengapa aku akan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah”. Itu kata Abu Bakar ketika mendengar usulan dari Umar bin Khattab. Umar mengusulkan pengumpulan ayat-ayat Alquran karena khawatir. Sebab, banyak para penghafal Alquran yang gugur dalam Perang Yamamah. Yakni peperangan di masa Khalifah Abu Bakar untuk menumpas orang-orang di Nejed dan Yaman yang murtad dan yang mengaku nabi beserta pengikutnya. Setelah diyakinkan Umar bahwa itu perbuatan baik, maka Abu Bakar memerintah pengumpulan ayat-ayat Alquran.

Juga ketika Khalifah Utsman bin Affan membukukan Alquran. Yang kemudian dikenal Mushaf Utsman. Pembukuan Alquran itu untuk menyatukan kaum Muslimin waktu itu pada satu mushaf yang seragam ejaan tulisannya. Juga bacaannya. Sebab, saat itu muncul perselisihan tentang ejaan dan bacaan Alquran. Kalau tidak disatukan, akan terjadi perpecahan di kalangan umat Islam. Bukankah pembukuan Alquran itu juga bentuk kreativitas?

Ketika Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan pembuatan sistem kalender bagi umat Islam. Sehingga akhirnya umat Islam punya sistem kalender hijriah. Atas usulan Ali bin Abi Thalib kalender hijriyah dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Itu semua terjadi karena kreativitas seorang pemimpin.

Pemimpin memang harus punya daya kreatif menghadapi perkembangan zaman. Setiap zaman pasti punya persoalannya sendiri. Mengatasi persoalan tersebut tentu perlu kreativitas.

Sekarang kita memasuki zaman digital. Zaman di mana segala sepak terjang hidup serba digital. Orang menyebut zaman ini sebagai era revolusi industri 4.0. Ciri-ciri era ini, ya itu tadi semua serba digital. Yang tak mau ketinggalan di era ini, ya harus pandai beradaptasi. Beradaptasi dengan teknologi digital.

Di zaman ini, orang harus mampu menguasai literasi era revolusi industri 4.0. Literasi era ini antara lain literasi kemampuan data (yakni kemampuan membaca, menganalisa dan menggunakan informasi), literasi teknologi (yakni memahami kerja mesin dan aplikasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan), serta literasi manusia (yakni bagaimana memahami sisi kemanusiaan dan kepiawaian dalam komunikasi).

Di era revolusi industri 4.0, separuh peran manusia akan lenyap. Bahkan bisa lebih. Robot akan menggantikan. Yang menjadi penanda era ini antara lain, artificial intelligence (kecerdasan buatan. Yakni perangkat komputer yang mampu memahami lingkungan sekitarnya, sekaligus memberikan respon yang sesuai dengan tujuan tindakan tersebut. Dengan kata lain komputer yang bisa melakukan tindakan yang sama seperti yang dilakukan manusia. Komputer yang mempunyai kecerdasan layaknya kecerdasan manusia.

Penanda lainnya yakni internet of things. Segalanya internet. Alat-alat fisik nantinya semua terkoneksi dengan internet. Misalnya kulkas, TV, mesin cuci, dan lainnya dapat dikontrol menggunakan smartphone untuk mematikan, menghidupkan dan kegiatan lainnya. Di era ini robot akan sangat “berkuasa”. Menggantikan peran dan pekerjaan manusia.

Revolusi industri 4.0 sudah terasa dalam kehidupan sehari-hari kita. Kendaraan sudah berbasis internet. Ada taksi online, dan ojek online. Transaksi jual beli juga sudah online. Bayar tol tidak lewat operator, tapi lewat e-toll. Itulah hal-hal positif yang dijanjikan revolusi industri 4.0.

Namun, di balik itu, banyak yang cemas. Sebab, sejumlah pekerjaan akan digantikan mesin. Peran manusia digantikan mesin otomatis. Dalam 10 tahun ke depan, ditafsir era ini dapat menghilangkan 1 sampai 1,5 juta pekerjaan. Persaingan jadi akan semakin ketat.

Itulah tantangan bagi pemimpin ke depan. Bagaimana menyiapkan masyarakat atau orang yang dipimpinnya menghadapi era robot ini. Bagaimana agar masyarakat punya kemampuan beradaptasi teknologi yang serba digital. Agar mereka tak depresi.

Pemimpin kreatif harus melahirkan anak buah atau rakyat yang kaya dengan digital talent. Selain sosial skill yang juga penting. Pemimpin kreatif akan senantiasa meng-update dirinya. Pemimpin di era revolusi industri 4.0 harus selalu meningkatkan pemahaman dalam mengekspresikan diri di bidang literasi media. Memahami informasi yang akan dibagikan kepada yang dipimpinnya, dan menemukan analisis penyelesaian setiap persoalan yang terjadi. Ia harus mengembangkan kualitas pola pikir yang dipimpinnya dan penguatan digitalisasi kepemimpinnya yang berbasis aplikasi.

Pemimpin di era digital ini tak sekadar sebagai motivator bagi yang dipimpinnya. Namun, ia harus berperan bagaimana para jamaahnya menjadi melek digital.

Ustad Abdul Somad menjadi fenomenal seperti sekarang ini karena dia kreatif dan melek digital. Timnya kreatif dan melek digital. Setiap ceramah atau dakwahnya ditayangkan secara live streaming. Direkam dan dipublikasikan di youtube. Tentu, selain itu karena ilmunya yang mumpuni dan gayanya yang kocak.

Kata kunci di era digital ini adalah kreatif dan cepat. Itu yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dan itu pula yang harus ditanamkan seorang pemimpin kepada orang yang dipimpinnya. Kreativitas dan kecepatan merupakan syarat utama memenangkan pertarungan di era digital.

Perpaduan kreativitas dan kecepatan bertindak akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat. Kreativitas yang lambat hampir serupa dengan kegagalan. Sementara kecepatan tanpa kreativitas akan menghasilkan sesuatu yang berantakan. Itulah tuntutan di era digital: “kreativitas tidak pakai lambat, dan cepat harus pakai kreativitas”. (*)

*) Penulis adalah Wartawan

Related Post