Latest News

Membawa Masa Depan Islam, Muhammadiyah dan NU Harus Lebih Mesra

6 months ago Post

Elemen masyarakat madani (civil society) yang kokoh diperlukan oleh negara untuk menjaga stabilitas dan kemampuan sebuah negara mengarungi kehidupan global.

Tanpa kekuatan masyarakat madani, sebuah negara bisa dengan mudah terjerumus dalam kehancuran yang berlarut-larut sebagaimana yang terjadi dengan Suriah dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah.

Indonesia patut bersyukur memiliki lebih dari satu elemen masyarakat madani, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Apalagi, masing-masing membawa semangat Islam dalam menghadapi gejolak globalisasi melalui gagasan Islam Berkemajuan dan gagasan Islam Nusantara.

“Diharapkan bukan hanya menjadi titik temu dua organisasi besar Muhammadiyah dan NU, tapi juga teladan moderatisme Islam di seluruh dunia,” terang akademisi Muhammadiyah alumni Australia National University Hasnan Bachtiar, Selasa (5/1).

Hasnan yang juga pengajar Universitas Muhammadiyah Malang tersebut memandang dua organisasi besar ini untuk lebih akrab bergandengan tangan dan menghindari fanatisme kelompok.

Hal itu diperlukan selain untuk menguatkan negara, unsur masyarakat madani seperti Muhammadiyah dan NU juga mampu menawarkan cara keberagamaan Islam Indonesia yang luhur dan berkeadaban pada dunia.
Membangun Peradaban Islam

“Tidak ada jalan lain kecuali kita berusaha mencari secara sungguh-sungguh bagaimana menyelesaikan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya seperti mimpi Muhammadiyah dan NU, dan juga membangun peradaban Islam,” jelasnya.

Karena itu, Hasnan berharap generasi muda di dua organisasi besar ini terus menempa kesadaran kritis membangun kebersamaan dan bersaing dalam koridor fastabiqul khairat.

Muhammadiyah dan NU harusnya menghadirkan sejarah baru politik Islam yang penuh damai, menghindari pengulangan sejarah persaingan Islam yang penuh dengan konflik.

Bagaimanapun ketatnya persaingan antara Muhammadiyah dan NU, tidak seharusnya dipahami secara sempit dan fanatik karena keduanya adalah produk kebudayaan, bukan Islam itu sendiri.

Hasnan mengungkapkan, dua elemen masyarakat madani ini harus mampu memelihara yang terbaik dari masa lalu, menciptakan yang terbaik di masa kini, dalam rangka menulis masa depan sejarah yang adiluhung. (Suara Muhammadiyah.or.id)

Related Post