Latest News

BERMULA INGIN ENTASKAN KETERBELAKANGAN UMAT ISLAM, LAHIRLAH MUHAMMADIYAH BULELENG (1)

7 months ago Post

Proses masuk dan berkembangnya Muhammadiyah di wilayah Kabupaten Buleleng tidak bisa lepas dari peran Singaraja (Buleleng) sebagai pusat pemerintahan dan sebagai kota pelabuhan kala itu. Hal ini menjadikan Buleleng sebagai daerah yang ramai dan dinamis serta kehidupan masyarakat yang kosmopolitan dari berbagai latar belakang ekonomi, sosial dan etnik yang berbeda, sehingga lebih terbuka olen berbagai pengaruh dari luar.

Dari sinilah terbentuk komunitas muslim di Singaraja yang diisi oleh tokoh-tokoh lokal dan juga pendatang dari daerah lain. Dalam diskusi oleh beberapa tokoh lokal di Kota Singaraja, serta didasari atas kenyataan bahwa kondisi umat masih terbelakang dalam segala bidang, maka muncullah ide pembaharuan, khususnya di bidang sosial, agama dan pendidikan.

Menurut Drs. Amoeng A. Rachman, tokoh Muhammadiyah Buleleng, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng, awal mula berdirinya Muhammadiyah di Buleleng lahir dari keinginan untuk memiliki lembaga pendidikan. Keinginan tersebut mendapatkan respon positif dari tokoh-tokoh Muslim lokal dan kalangan birokrat yang sebagian besar pendatang dari Jawa.

“Memang ide awalnya adalah mendirikan lembaga pendidikan, apalagi muslim di sini sebagai minoritas. Maka muncul ide ini dari beberapa tokoh Buleleng pada saat itu masih menjadi ibukota provinsi, sehingga banyak muslim dari Jawa yang bertugas di sini, di antaranya juga punya latar belakang Muhammadiyah,” tutur Amoeng A. Rachman.

Amoeng mengatakan, salah satu tokoh penting dalam pendirian Muhammadiyah Buleleng, yaitu Raden Padmodiharjo. Beliau yang saat itu menjadi Jaksa Raad & Kertha Bali dan Lombok di Singaraja, sangat men-support, bahkan menyediakan tempat untuk pertemuan dengan tokok-tokoh lokal lain.


Dalam setiap pertemuan, ide pendirian sekolah selalu menjadi bahan diskusi. Tapi mengingat pengalaman sebelumnya, bahwa pendirian lembaga pendidikan banyak mengalami kendala sampai akhirnya ditutup, maka muncul pemikiran perlunya mendirikan cabang persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi untuk menopang lembaga pendidikan tersebut.

Maka pada tahun 1939 Muhammadiyah Singaraja (Buleleng) resmi didirikan. Susunan pengurus Muhammadiyah saat itu yakni H. Muhammad Muchsin (Ketua), M. Hassan (Sekretaris) dan H. Muhammad Said Sakio (Bendahara). Adapun anggota-anggotanya yakni Abdul Murad, Abdul Hafid Syabibi, Muhammad Yasin, dan Ismail Ibrahim.

Amoeng menambahkan, Surat Ketetapan (SK) Muhammadiyah Buleleng tertanggal 13 September 1939 ditandatangani oleh KH Mas Mansoer sebagai Voorsitter dan KH. M. Faried Ma’roef sebagai sebagai sekretaris.

“SK-nya juga masih ada, kalau tidak salah dibingkai juga dengan rapi,” jelasnya, sembari menunjukkan fotokopi SK yang sudah dibukukan dengan foto-foto bersejarah lainnya. (*)

Bersambung ...

Related Post